Senin, 29 Juli 2019

Bab Mau Jadi Apa ? (Be who you want to be)

Part 1


Lulus SMA, gue enggak ngurus masuk universitas. Entah lewat SNMPTN maupun SBMPTN. Berbeda sendiri dengan teman sekelas, gue malah masuk di kuliah D1 perhotelan swasta di solo. Gue yang enggak punya gambaran tentang kuliah perhotelan hanya bermodalkan kenekatan. Orang tua untung selalu support dengan pilihan anaknya.
Singkat cerita gue kuliah di perhotelan dengan masa teori 6 bulan dan praktek kerja lapangan juga 6 bulan. It was great! Gue belajar banyak tentang how to be a hotellier. Gue juga belajar tentang hospitality industry. Menurut gue dengan masa teori yang cuma 6 bulan terasa kurang bagi gue yg baru masuk di dunia perhotelan. Tentunya gue kalah dengan teman-teman gue yg dari SMK perhotelan. Tapi menurut gue bukan nya praktek di dunia kerja itu lbh utama ? But theory is important!.
Singkat cerita, gue sering ambil job casual/Daily worker di beberapa hotel sebelum masa PKL. Itu kayak kerja part time di hotel. Tapi diitungnya per hari bukan per jam (tentunya satu hari dengan jam kerja 8 jam). Gwe rajin bgt ambil job seperti ini hingga gue kaget pas mau TA gue absen 25 kali selama kuliah 😂 untung gwe bisa nyusun TA karena waktu itu batas absen hanya sampai 28 bersyukur banget deh. Selama kuliah Gwe selalu ambil job dengan temen gwe namanya lupa tapi hehe. Gwe pernah di sala view, megaland hotel, hotel Paragon, hotel Aston, hotel Kusuma Sahid dan masih banyak lagi. Gwe yg gak tau apa-apa soal kerja di hotel memberanikan diri untuk apply. Gwe terimakasih bgt dengan Senior" yang ngajarin gwe dari nol sampai bisa. Hingga gwe bisa training di hotel Aston dengan pertimbangan gwe udah kenal karyawan disana sebelumnya hehe.
Masa training 6 bulan sangat berkesan bagi gwe. Banyak senior disana yang menempa gwe dengan pelajaran yang berharga. Gwe di bagian housekeeping (Departement di hotel yang kerjanya bersih" kamar/mempersiapkan kamar untuk dijual/bertanggung jawab atas kebersihan area simpel nya). Singkat cerita masa training gue mau habis tapi gue udah ditawari kerja disitu oleh manager gue. Tanpa pikir panjang gue iyain tawaran itu dengan mohon ijin menyelesaikan TA dan wisuda. Bukan berniat untuk sombong, tapi gue bangga bisa kerja sebelum PKL, gue langsung dapat pekerjaan setelah training. Thanks God!. Gue denger banyak temen-temen gue yg ambil Departement yang sama dengan gwe maupun lain department setelah training banyak yg enggak ditawari kerja di tempat mereka training.
Gue kerja sebagai Daily worker di Aston hotel. Pernah kerja sebagai Room attandent (yg mempersiapkan kamar) pernah juga kerja sebagai public area (kayak cleaning service gtu yang memaksa gue untuk kerja di tiga shift pagi, siang, malam) tapi gue ngerjainnya dengan sepenuh hati. Banyak pengalaman saat gue kerja disana tapi enggak gue ceritain di bab ini.
Singkat cerita, dalam waktu 2 tahun gue diangkat jadi staff disana karena staff sebelum nya kontraknya tidak diperpanjang. How great is my God!. Dengan waktu sesingkat itu gue diangkat jadi staff dengan gaji bahkan 2 sampai 3 kali lipat dari gaji gue sebelumnya. Tentunya dengan tanggung jawab dan resiko yang lebih besar dari sebelumnya.
Tetapi kerja sebagai hotellier memaksa gue untuk masuk di hari Minggu maupun hari libur nasional. Sistem kerja nya 5 hari kerja 1 hari libur tetapi kadang bisa lebih sesuai dengan tingkat hunian hotel. Gwe emang dapet gaji yg lumayan, namun itu semua merenggut waktu gwe untuk ibadah, berkumpul dengan keluarga di hari libur dan masih banyak lagi. Gue kerja berangkat pagi jam 7 pulang bisa sampai jam 6 kadang lebih. Pernah gue pulang jam 10 karena kerjaan yang enggak bisa ditinggal. Itu semua menguras tenaga dan pikiran gue. Kepenatan itu enggak bisa lagi gue tahan hingga gue memutuskan keluar dari hotel. Banyak temen-temen gue yg menyayangkan keputusan gwe dengan pertimbangan posisi gue yang udah jadi staff. Karena emang enggak mudah untuk jadi staff di hotel. Atasan gue juga ngasih tau gue untuk pikir ulang keputusan gwe. Tapi dengan pertimbangan apa yg gue rasakan gwe tetap di keputusan. Keluarga awalnya kurang setuju, tetapi setelah gue ceritain semua akhirnya mereka paham.
I start it over! Gue mulai menata lagi hidup dan karir. Gue harus lanjut kuliah buat masa depan gue. Kembali lagi ke passion gue waktu SMA yaitu bahasa Inggris. Karena waktu itu jadi mata pelajaran favorit gue. Gue harus kuliah di jurusan itu entah di sastra Inggris atau di pendidikan bahasa Inggris.
Next ke part 2
Don't Miss it!

Rabu, 08 Mei 2019

Tentang Kebencian
Based on my experiences

Dalam blog kali ini gw bakalan bahas yang namanya kebencian. Dilihat dari segi bahasa, menurut KBBI benci mempunyai arti sangat tidak suka. Suatu ungkapan yang datang dari jiwa yang pastinya mempunyai aura negatif. Lalu mengapa orang bisa jadi benci dan apa penyebabnya ?
In my opinion, penyebab benci bisa karena faktor psikologis. Kita bisa saja benci kepada orang yang belum kita kenal. "Orang lebih suka dan menghargai mereka yang mengekspresikan emosi positif yang paling dihargai oleh budaya mereka sendiri," ungkap Tsai. Professor psikologi dari Sanford university. Jadi jika bertemu orang dan melihat ekspresi negatif dari nya (marah, sedih, kecewa) otomatis otak kita memindai dan timbul rasa tidak suka terhadap orang tersebut.
Yang kedua karena hasutan. Faktor kedua bisa dikatakan faktor dari luar diri manusia. Kita bisa terpengaruh oleh hasutan orang lain yang membuat kita tidak suka terhadap seseorang. Gw pernah alami saat jaman SMP waktu itu booming APWG (Anti Pee Wee Gaskins) sebuah komunitas yang mengatasnamakan orang-orang yang benci/anti terhadap Band Pee Wee Gaskins. Banyak hasutan/ujaran kebencian terhadap Band tersebut. Dikatakan Homo, alay, dan yang lainnya. Gw saat itu terpengaruh dan ikut dalam komunitas tersebut. Namun berjalannya waktu gw penasaran mengapa band itu dibenci. Ternyata karena salah satu personel nya pindah dari band lain ke band itu dan itulah salah satu penyebab banyak orang yang benci. Namun ada beberapa faktor yang lain. Tapi yang patut digarisbawahi bahwa band PWG bisa terus eksis dan membuktikan bahwa segala hadangan yang ada di depannya mampu mereka lewati. Dengan banyak prestasi yang mereka raih salah satu nya Menggung di beberapa negara Malaysia, Filipina hingga Jepang. It's awesome!. Mereka merubah energi negatif yang mereka terima untuk diubah menjadi bahan bakar. Contoh lain ketika Pemilu/Pilpres kemarin. Gwe jelasin bukan karena gw memilih salah satu calon tapi berdasarkan fakta yang ada. Bagaimana Pak Jokowi menerima banyak fitnah dan tuduhan dari lawan politik. PKI, Aseng, Anti Islam, presiden yang tunduk kepada asing dan yang lainnya. Seakan lawan politik tidak pernah lelah memberikan pressure kepada presiden. Hingga ujaran kebencian menyebar ke penjuru negeri dan dipercaya oleh banyak orang. Mereka mempercayai hoax tersebut tanpa mengecek kebenaran berita. Namun apa yang pak Jokowi lakukan? Beliau hanya diam bersabar dan tidak membalas sedetikpun. Energi yang ada seluruhnya dicurahkan untuk membangun negeri. Bisa kita lihat pembangunan yang masif untuk menopang perekonomian bangsa. Jalan, bendungan, saluran irigasi, dan infrastruktur pendukung lainnya. Sehingga ekonomi kita menguat dan dapat mengejar ketertinggalan dengan negara lain.
Dua hal yang menjadi point adalah jangan balas kebencian dengan kebencian. Namun balas dengan cara yang elegan. Tetaplah meraih prestasi mu dengan caramu sendiri.
Sebagai penutup gw mau jelasin filosofi jari tengah. Saat loe jadi hater, jari tengah Lo naik. Perhatikan jari telunjuk, kemana arah nya ? Bawah!. Selama Lo jadi hater maka selama itu lah loe akan ada di level itu. Being hater, it is useless dan itu cuma buang-buang energi Lo dan loe gak bisa berkembang di saat orang yang loe benci semakin naik. Sekarang jari telunjuk Lo naikin, maka arah nya keatas. Berdamailah dan loe akan semakin naik. Karena saat itulah energi Lo bisa Lo gunakan untuk hal positif, salah satu nya mengembangkan kompetensi Lo.
Jangan mudah terhasut, jadilah orang patut

Think positive! You Will be better
Good bye, God Bless You

Minggu, 05 Mei 2019

The Most Comfortable Place is Family part 1

What's your opinion ? Kita memang terlahir dari latar belakang keluarga yang berbeda. Tetapi sebelum kita dikandung, Tuhan telah merencanakan dimana kita lahir. Tidak ada yang salah dengan keluargamu. Itu hanya cara Tuhan untuk mengajarimu kelak berkeluarga. Karena setiap orang memiliki cerita yang berbeda
Dan ini cerita ku..

Aku lahir di keluarga yang berkecukupan. Almarhum bapak bekerja sebagai Kepala sekolah di salah satu SD negeri. Ibu bekerja sebagai buruh pabrik. Sejak kecil aku dirawat oleh nenekku. TK, SD, Bahkan sampai sekarang kuliah pun aku masih tinggal dengan nenek. Jadi saat bapak dan ibu bekerja, aku pasti dititipin ke rumah nenek. Jadi terbiasa tinggal di rumah nenek daripada di rumah sendiri. Bahkan aku lebih kenal orang di daerah nenek ku daripada rumahku sendiri hehehe
Segalanya telah aku miliki. Harta, kasih sayang, pelajaran dan yang lain hingga bapakku meninggal saat aku kelas 4 SD. I lost everything that i have. Shock, being heartbreak saat melihat ibu menangis saat itu. By the way, aku punya kakak tiri dari hasil pernikahan bapak dulu.
Setelah saat itu, ibu banting tulang untuk menafkahi keluarga. Ibu pribadi yang kuat dan lembut. Peran bapak diambil oleh beliau. Hingga aku beranjak dewasa ibu tetap jadi yang terhebat. 
Setiap malam aku mendengar ibu nangis dan berdoa. Kehilangan orang yang dicintai memang berat. Sedih rasanya, seorang ibu yang masih muda dan anak sekecil itu harus rela kehilangan suami dan bapak. Hidup saat itu sulit, bukan hanya ekonomi tapi mental. Aneh rasanya yang biasa nya minta ini itu sudah pasti dituruti. Proses penerimaan ini berlangsung sedikit demi sedikit. But, life must go on. 
Kalian pasti bertanya "kok judulnya gak ada relate dengan isi ?". Kalian akan mendapatkan jawabannya di part 2 nanti

God bless you

Welcome to my new blog!

Hello everyone,
It nice to see you!
I hope that i can write my opinion regulary.


Saya Yosua Anang Arniawan, 20 Agustus 1997, mahasiswa pendidikan bahasa Inggris Universitas Slamet Riyadi.

Thank you